antara logikaku dan perasaanku
Hai kamu… Hai kamu yang selalu ada dalam pikiranku, apa kabar? Hai kamu yang selalu dalam imajinasiku, sedang apa? rasanya baru kemarin kita memulai perjalanan cinta kita, kita saling kirim surat sambil tersenyum malu. Terbayang wajahmu yang membalas senyumanku dari kejauhan. Rutinitas yang membuat kita sering bertemu membuat semuanya begitu membara. Layaknya api yang membakar habis hutan berhetar-hektar luasnya. Kisah percintaan sepasang anak pubertas 13 tahun yang lalu sedang menari-nari di dalam otakku. Apalah dayaku, jikalau otakku yang memutar kembali memori ini. Tubuh ini seakan-akan melakukan apa saja yang diperintahkan. Apa yang bisa aku lakukan? Menghubunginya ataukah langsung menemuinya? Yang selalu jadi pertanyaan, apakah semuanya masih sama seperti dulu? Apabila aku dan dia bertemu apakah perasaannya dan perasaanku berbunga-bunga kembali? Ayolah ini hanya sebuah kenangan indah yang tidak akan terulang kembali.